Skip to main content

FAKTA MENGERIKAN, "ALASAN ANAK PENGEMIS SELALU TERTIDUR"

Fenomena pengemis di jalanan jamak dijumpai hampir di seluruh kota-kota besar di Indonesia. Biasanya, para pengemis turut serta membawa anak-anaknya. Bahkan, tak jarang pula mereka mengajak anak-anak yang masih balita dalam gendongan.
Kondisi mengenaskan dan memprihatinkan pada anak kecil yang dipaksa orangtuanya menemani mengumpulkan uang sedekah itu tak pelak menimbulkan rasa iba yang membuat orang-orang tersentuh dan mengulurkan tangan memberikan sumbangan.

Sebenarnya, praktik mengemis kini seolah sudah menjadi profesi bagi sebagian orang. Kondisi ekonomi, tidak punya pekerjaan dan keterbatasan fisik masih menjadi alasan utama untuk mengemis. Namun, ada juga yang memang menjadikan mengemis sebagai ladang untuk mengumpulkan pundi-pundi kekayaan.

Namun, di balik fenomena mengemis tersebut, terdapat fakta mengerikan yang membuat miris.

Jika diperhatikan, pengemis yang mengajak anaknya dalam gendongan, biasanya, atau selalu tidak pernah rewel. Padahal sang ibu mengajaknya berpanas-panasan hingga berlarian mengejar bus di siang hari.

Dari penelusuran Dinas Sosial, terungkap jika balita-balita pengemis itu sudah dicekoki obat tidur. Beberapa kasus menunjukan mereka memberikan obat penenang dalam dosis cukup tinggi. Hal ini bertujuan agar mereka tidak mengganggu aktivitas para pengemis ketika meminta-minta.

“Dinas Sosial sudah sering menjaring mereka. Bayi-bayi tersebut diberi obat tidur agar tetap tenang selama mereka mengemis. Ini adalah satu bentuk eksploitasi anak yang harus ditindak tegas,” tandas Kepala Seksi Rehabilitasi Sosial Tuna Sosial Dinas Sosial DKI Jakarta Prayitno, Rabu (4/3).

Temuan modus mengerikan itu tidak hanya terjadi di Ibukota Jakarta, namun juga di kota-kota lain seperti Medan, Lampung, dan Jawa.

Meski dinas sosial rutin menggelar razia PMKS (Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial), namun pengemis yang membawa anak-anak masih banyak berkeliaran.

Kepala Bidang Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial DKI Jakarta, Chaidir melaporkan dalam 2 bulan terakhir pihaknya telah menjaring lebih dari 1.000 PMKS.

Chaidir menjelaskan, kini pengemis tidak hanya beroperasi di kawasan lammpu merah, namun juga telah menginvasi area pemukiman warga. Maka tak heran jika kini banyak ditemukan pengemis menggendong anaknya meskipun di pemukiman penduduk.

“Kami sudah melihat kecenderungan operasi mereka ke sana. Makanya kami mengajak instansi-instansi terkait yang berwenang di sana, untuk ikut melakukan penangan PMKS jalanan. Karena mereka melanggar Perda 8 tahun 2007 tentang Ketertiban Umum. Ini demi kepentingan kita semua,” jelas Chaidir. Demikian dilansir dari Merdeka. 
 
sumber : disini

Comments

Popular posts from this blog

Pengamat: Sanusi Ditangkap KPK, Gerindra Kalah Sebelum Pilgub DKI

Anggota DPRD DKI Jakafrta dari Fraksi Gerindra Mohammad Sanusi tertangkap tangan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). ‎Tersandungnya Sanusi dalam kasus korupsi ini akan semakin mencederai kepercayaan masyarakat terhadap partai politik. Apalagi Sanusi merupakan salah satu bakal calon Gubernur DKI dari Partai Gerindra. Ketua Departemen Research dan Consulting Para Syndicate Toto Sugiarto menilai, kasus itu akan sangat merugikan Gerindra dan parpol-parpol lain di Pilkada DKI 2017. Bahkan, dengan tersandungnya satu kader pada kasus korupsi membuat Partai Gerindra sulit berkompetisi merebut kursi DKI 1 pada periode 2017-2022. "Gerindra ini sudah lemas. Kasus ini sangat jelas berdampak besar. Jadi Gerindra ini sudah kalah sebelum bertanding," ucap Toto dalam diskusi bertajuk 'Pilkada DKI: Mencari Alternatif Selain Ahok' di Kantor Para Syndicate, Jakarta Selatan, Jumat (1/4/2016). Menurut dia, saat ini figur yang mampu mengalahkan petahana Basuki Tjahaja ...

Arti Nama Indonesia, Nusantara dan Asal-Usulnya

Nama Nusantara berasal dari dua kata bahasa Sanskerta, yaitu nusa yang berarti “pulau” dan antara yang berarti “luar”. Nusantara digunakan untuk menyebut pulau-pulau di luar Majapahit (Jawa). Perkataan Nusantara kita dapatkan dari Sumpah Palapa Patih Gajah Mada yang diucapkan dalam upacara pengangkatannya menjadi Patih Amangkubhumi Kerajaan Majapahit (tahun 1258 Saka/1336 M) yang tertulis di dalam Kitab Pararaton (Raja-raja): Sira Gajah Mada Patih Amangkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira Gajah Mada, “Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, TaƱjung Pura, ring Haru, ring Pahang , Dompo, ring Bali , Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa”. (Beliau Gajah Mada Patih Amangkubumi tidak ingin melepaskan puasa. Ia Gajah Mada, “Jika telah mengalahkan nusantara, saya (baru akan) melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seran, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru...

Kisah hebat buruh cuci kuliahkan anak sampai jenjang S3 di Jepang

Profesi sebagai buruh cuci ternyata tak membuat Yuniati yang berusia 49 tahun berkecil hati dalam membiayai kedua anaknya bersekolah. Berpegang pada prinsip bahwa pendidikan adalah cara terbaik untuk mengubah nasib, Yuniati bangga anak pertamanya berhasil menempuh pendidikan di Jepang. Satya Chandra Wibawa Sakti yang berusia 29 tahun kini sedang kuliah S3 di Universitas Hokaido, Jepang. Anak pertama Yuniati itu merupakan salah satu mahasiswa penerima beasiswa Dikti untuk kuliah di jurusan Kimia di Universitas Hokaido pada tahun 2012. Tekad yang kuat untuk memberikan kehidupan yang lebih baik bagi anaknya menjadi dorongan utama Yuniati. Wanita yang bekerja sebagai buruh cuci warga Ketandan Kulon, Imogiri, Bantul ini rela bekerja keras membanting tulang bahkan hingga melakukan pekerjaan serabutan lainnya. Yuniati ikhlas menjalani demi pendidikan anak-anaknya. Yuniati punya cita-cita yang mulia, ia tak ingin jika kedua anaknya bernasib sama dengannya. Tidak hidup mengais rezeki...