Skip to main content

Demi berlibur, keluarga asal Bekasi sulap angkot jadi hotel berjalan

Angkot disulap jadi hotel berjalan


Mengisi waktu libur lebaran, keluarga Ibu Ida (42) asal Bekasi mengunjungi Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta Selatan, dengan mengendarai angkot. Bukan sekedar angkot, suami ibu Ida sengaja meletakan papan di dalam angkot sebagai tempat tidur selama perjalanan Bekasi ke Ragunan.

Ibu tiga orang anak itu mengaku memasang papan sebagai tempat tidur itu atas pengalaman sebelumnya ketika mengunjungi tempat wisata yang dirasa cukup jauh.

"Iya kan banyak anak-anak juga kalau ngantuk tinggal tidur aja, kitanya juga orangtua juga kalau ngantuk tinggal selonjoran kaki aja," ujar Ida saat berbincang dengan merdeka.com, Minggu (10/7).

Beranggotakan 10 orang keluarga Ida berangkat sejak pukul 12.00 WIB dari Harapan Jaya, Bekasi. Setibanya di Ragunan, anak-anak bu Ida beserta keponakannya itu bergegas menjelajah Ragunan.

Ida menuturkan kunjungan ke Ragunan bukan pertama kali, setiap kali libur lebaran keluarganya memang mendatangi kebun bintang yang ada di Jakarta itu. Alasannya, lebih mudah mengontrol dan mengawasi anak-anak ketimbang di tempat wisata lain, terlebih lagi harga tiket masuk Ragunan cukup terjangkau Rp 4.000 untuk dewasa Rp 3.000 untuk anak-anak.

"Emang anak-anak yang minta kesini, kemarin sudah ke Ancol tapi anak saya tenggelam susah juga mantaunya," tutur dia.

Selain mengajak anak-anak menjelajah kehidupan Fauna di Ragunan, Ida tidak luput mempersiapkan bekal untuk makan siang sekeluarga. Berbekal satu termos nasi, satu dus air mineral, berbungkus-bungkus lauk pauk keluarga bu Ida siap menyantap makanan yang sudah dipersiapkan sejak pagi hari.

Menurutnya persiapan seperti itu tidaklah repot apalagi memang sudah direncanakan sebelum lebaran.

"Enggak lama cuma sehari mau berangkat udah disiapin mau bawa apa aja," pungkasnya.

Comments

Popular posts from this blog

Pengamat: Sanusi Ditangkap KPK, Gerindra Kalah Sebelum Pilgub DKI

Anggota DPRD DKI Jakafrta dari Fraksi Gerindra Mohammad Sanusi tertangkap tangan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). ‎Tersandungnya Sanusi dalam kasus korupsi ini akan semakin mencederai kepercayaan masyarakat terhadap partai politik. Apalagi Sanusi merupakan salah satu bakal calon Gubernur DKI dari Partai Gerindra. Ketua Departemen Research dan Consulting Para Syndicate Toto Sugiarto menilai, kasus itu akan sangat merugikan Gerindra dan parpol-parpol lain di Pilkada DKI 2017. Bahkan, dengan tersandungnya satu kader pada kasus korupsi membuat Partai Gerindra sulit berkompetisi merebut kursi DKI 1 pada periode 2017-2022. "Gerindra ini sudah lemas. Kasus ini sangat jelas berdampak besar. Jadi Gerindra ini sudah kalah sebelum bertanding," ucap Toto dalam diskusi bertajuk 'Pilkada DKI: Mencari Alternatif Selain Ahok' di Kantor Para Syndicate, Jakarta Selatan, Jumat (1/4/2016). Menurut dia, saat ini figur yang mampu mengalahkan petahana Basuki Tjahaja ...

Arti Nama Indonesia, Nusantara dan Asal-Usulnya

Nama Nusantara berasal dari dua kata bahasa Sanskerta, yaitu nusa yang berarti “pulau” dan antara yang berarti “luar”. Nusantara digunakan untuk menyebut pulau-pulau di luar Majapahit (Jawa). Perkataan Nusantara kita dapatkan dari Sumpah Palapa Patih Gajah Mada yang diucapkan dalam upacara pengangkatannya menjadi Patih Amangkubhumi Kerajaan Majapahit (tahun 1258 Saka/1336 M) yang tertulis di dalam Kitab Pararaton (Raja-raja): Sira Gajah Mada Patih Amangkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira Gajah Mada, “Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, TaƱjung Pura, ring Haru, ring Pahang , Dompo, ring Bali , Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa”. (Beliau Gajah Mada Patih Amangkubumi tidak ingin melepaskan puasa. Ia Gajah Mada, “Jika telah mengalahkan nusantara, saya (baru akan) melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seran, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru...

Kisah hebat buruh cuci kuliahkan anak sampai jenjang S3 di Jepang

Profesi sebagai buruh cuci ternyata tak membuat Yuniati yang berusia 49 tahun berkecil hati dalam membiayai kedua anaknya bersekolah. Berpegang pada prinsip bahwa pendidikan adalah cara terbaik untuk mengubah nasib, Yuniati bangga anak pertamanya berhasil menempuh pendidikan di Jepang. Satya Chandra Wibawa Sakti yang berusia 29 tahun kini sedang kuliah S3 di Universitas Hokaido, Jepang. Anak pertama Yuniati itu merupakan salah satu mahasiswa penerima beasiswa Dikti untuk kuliah di jurusan Kimia di Universitas Hokaido pada tahun 2012. Tekad yang kuat untuk memberikan kehidupan yang lebih baik bagi anaknya menjadi dorongan utama Yuniati. Wanita yang bekerja sebagai buruh cuci warga Ketandan Kulon, Imogiri, Bantul ini rela bekerja keras membanting tulang bahkan hingga melakukan pekerjaan serabutan lainnya. Yuniati ikhlas menjalani demi pendidikan anak-anaknya. Yuniati punya cita-cita yang mulia, ia tak ingin jika kedua anaknya bernasib sama dengannya. Tidak hidup mengais rezeki...